Ikuti Kami
Jumat, 3 Juli 2026 Versi Web

Pendidikan Itu Mahal, yang Murah Hanya Gaji Gurunya

Kontributor: Insan Faisal Ibrahim
Selasa, 12 Mei 2026 | 09:02 WIB
Facebook
X
WhatsApp
Lainnya

Pendidikan selalu disebut sebagai investasi masa depan. Semua orang sepakat bahwa pendidikan adalah jalan terbaik untuk membangun peradaban, memperbaiki kualitas hidup, dan menciptakan generasi yang lebih baik. Namun, di balik kalimat indah itu, ada kenyataan yang sering kali terasa pahit. Pendidikan itu mahal, tetapi yang justru murah adalah gaji gurunya.

Kalimat ini bukan sekadar sindiran, melainkan gambaran nyata yang masih terjadi di banyak tempat. Biaya pendidikan terus meningkat dari tahun ke tahun. Orang tua harus mempersiapkan uang untuk biaya masuk sekolah, seragam, buku pelajaran, uang pembangunan, kegiatan tambahan, hingga biaya les di luar sekolah. Bahkan, untuk masuk ke sekolah yang dianggap favorit, sering kali diperlukan biaya yang tidak sedikit.

Di tingkat perguruan tinggi, persoalannya menjadi semakin besar. Banyak mahasiswa harus berjuang keras membayar uang kuliah yang nominalnya bisa mencapai jutaan rupiah per semester. Tidak sedikit orang tua yang rela berutang, menjual aset, atau bekerja lebih keras demi memastikan anaknya tetap bisa melanjutkan pendidikan. Semua itu dilakukan karena mereka percaya bahwa pendidikan adalah harapan.

Namun ironisnya, di tengah mahalnya biaya pendidikan, masih banyak guru yang hidup dengan penghasilan yang jauh dari kata layak. Mereka yang setiap hari berdiri di depan kelas, mengajar dengan penuh kesabaran, mendidik dengan hati, dan membentuk karakter generasi penerus bangsa, justru sering kali menerima upah yang tidak sebanding dengan pengorbanannya.

Masih banyak guru honorer yang digaji sangat rendah, bahkan ada yang hanya menerima ratusan ribu rupiah dalam sebulan. Jumlah itu tentu sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup, apalagi jika mereka sudah berkeluarga. Padahal, tugas seorang guru bukan hanya mengajar. Mereka juga harus menyiapkan materi, memeriksa tugas, membuat laporan administrasi, mengikuti pelatihan, hingga menghadapi berbagai tuntutan perubahan sistem pendidikan yang terus berkembang.

Guru bukan hanya profesi, tetapi juga panggilan jiwa. Banyak guru tetap bertahan bukan karena gajinya besar, melainkan karena mereka percaya bahwa mendidik adalah bentuk pengabdian. Mereka menanam ilmu dengan harapan suatu hari akan tumbuh menjadi manfaat besar bagi masyarakat. Sayangnya, semangat pengabdian itu sering kali dimanfaatkan oleh sistem yang belum sepenuhnya berpihak.

Kita sering mendengar ungkapan bahwa guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Kalimat itu terdengar mulia, tetapi terkadang justru menjadi pembenaran untuk mengabaikan kesejahteraan mereka. Seolah-olah karena guru adalah pahlawan, maka mereka harus ikhlas menerima keadaan tanpa banyak menuntut hak yang seharusnya mereka dapatkan. Padahal, menghargai guru tidak cukup hanya dengan pujian dan slogan, tetapi juga dengan kebijakan yang nyata.

Pendidikan yang berkualitas hanya bisa lahir dari sistem yang adil. Guru yang menjadi pondasi utama pendidikan harus mendapatkan perhatian yang layak. Ketika seorang pendidik hidup dalam ketidakpastian ekonomi, maka semangat dan fokus dalam mendidik juga akan ikut terpengaruh. Beban hidup yang berat sering kali membuat guru harus mencari pekerjaan tambahan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kontributor: Insan Faisal Ibrahim
Selasa, 12 Mei 2026 | 09:02 WIB
Artikel ini merupakan tanggung jawab kontributor dan tidak mencerminkan pandangan redaksi Distrik Banten News - Berita Banten Terkini, Terlengkap dan Terbaru Hari Ini.
Artikel Selanjutnya

Viral Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI 2026: Ketika Integritas Dewan Juri Dipertanyakan Publik

Mode AMP — versi ringan & cepat
Versi Lengkap

Terkini

Pendidikan Itu Mahal, yang Murah Hanya Gaji Gurunya

Selasa, 12 Mei 2026 | 09:02 WIB

ChatGPT dan Masa Depan Dunia Pendidikan

Minggu, 10 Mei 2026 | 08:12 WIB
↑ Kembali ke atas
Pendidikan Itu Mahal, yang Murah Hanya Gaji Gurunya

Bagikan artikel ini melalui