KOTA SERANG – Pemerintah memprediksi tingkat pergerakan masyarakat pada arus mudik dan balik Lebaran 1447 Hijriah tahun 2026 mengalami penurunan sebesar 1,75 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Berdasarkan hasil survei nasional, jumlah pemudik tahun 2026 diperkirakan mencapai 143.915.053 orang, turun dari angka survei tahun 2025 yang mencapai 146.489.733 orang.
Hal tersebut disampaikan Menteri Perhubungan RI, Dudy Purwagandhi saat memimpin Rapat Koordinasi (Rakor) Persiapan Angkutan Lebaran 2026 di Pendopo Gubernur Banten, KP3B, Kota Serang, Senin (16/2/2026).
“Berdasarkan hasil survei, prakiraan pergerakan masyarakat selama Lebaran 2026 turun sebesar 1,75 persen dibandingkan survei tahun 2025,” ujar Dudy.
Waspadai Lonjakan di Luar Prediksi
Meski secara survei diprediksi mengalami penurunan, Dudy menegaskan bahwa angka tersebut tetap harus diwaspadai. Ia berkaca pada pengalaman tahun 2025, di mana hasil survei memperkirakan jumlah pemudik mencapai 146.489.733 orang. Namun pada realisasinya, jumlah pergerakan masyarakat justru melonjak signifikan menjadi 154.623.632 orang.
“Jadi perlu hati-hati. Belajar dari pengalaman sebelumnya, realisasi di lapangan bisa jauh lebih tinggi dibandingkan hasil survei,” tegasnya.
Menurutnya, terdapat sejumlah faktor yang memengaruhi lonjakan tersebut, di antaranya kebijakan perusahaan dengan memberikan cuti saat mendekati hari H lebaran. Kebijakan-kebijakan tersebut mendorong masyarakat untuk melakukan perjalanan dalam jumlah yang lebih besar dari prediksi.
Karena itu, pemerintah pusat bersama pihak terkait diminta tidak lengah meskipun angka survei menunjukkan penurunan.
“Penanganan arus mudik dan balik Lebaran 2026 tetap serius demi kelancaran, keselamatan, dan kenyamanan masyarakat,” tambahnya.
Provinsi Banten Masuk 5 Teratas Arus Mudik Tersibuk
Dalam kesempatan tersebut, Dudy juga mengungkapkan bahwa Provinsi Banten kembali masuk lima besar daerah dengan tingkat pergerakan pemudik tertinggi secara nasional. Tercatat sekitar 11,7 juta orang hilir mudik melalui wilayah Banten selama periode Lebaran.
“Provinsi Banten masuk lima besar pergerakan masyarakat (pemudik). Selain itu, Banten merupakan wilayah dengan pergerakan sangat padat, khususnya jalur dari Pulau Jawa menuju Pulau Sumatera. Baik melalui jalur darat maupun penyeberangan, hampir seluruh kendaraan akan melintasi Banten,” bebernya.
Sebagai gerbang utama penyeberangan Jawa–Sumatera melalui Pelabuhan Merak, Banten memegang peranan strategis dalam kelancaran distribusi kendaraan pribadi, bus antarkota, angkutan logistik, hingga sepeda motor pemudik.
Kepadatan arus kendaraan biasanya terjadi di sejumlah titik krusial seperti akses jalan tol menuju pelabuhan, kawasan rest area, hingga kantong parkir penyangga kendaraan sebelum masuk kapal ferry.
Penguatan Koordinasi dan Mitigasi
Dalam Rakor tersebut, Kementerian Perhubungan menekankan pentingnya penguatan manajemen rekayasa lalu lintas, optimalisasi buffer zone, digitalisasi sistem tiket penyeberangan, serta pengaturan jadwal operasional angkutan umum.
Selain itu, koordinasi lintas sektor juga menjadi kunci utama, termasuk kesiapan infrastruktur jalan nasional dan tol, kesiapan armada kapal penyeberangan, pengaturan kendaraan sumbu tiga, serta kesiapan fasilitas keselamatan dan kesehatan di titik-titik strategis.
Dudy menegaskan bahwa meskipun terdapat prediksi penurunan 1,75 persen, skenario pengamanan dan pelayanan tetap harus disiapkan dengan asumsi lonjakan bisa terjadi sewaktu-waktu.
“Kita tidak boleh hanya berpatokan pada angka survei. Semua pihak harus siap dengan skenario agar arus mudik dan balik Lebaran 2026 berjalan aman, lancar, dan terkendali,” pungkasnya. ***










