Kota SerangPemerintahan

Wali Kota Serang Budi Rustandi Bantu Anak Penderita Mikrosefali dengan Kursi Roda Khusus

KOTA SERANG – Setelah menerima laporan dari warga Link. Masjid Jeranak, Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang, mengenai seorang anak perempuan yang membutuhkan kursi roda, Wali Kota Serang Budi Rustandi langsung melakukan kunjungan untuk melihat kondisi warga tersebut.

Dalam kunjungan itu, tampak seorang anak berusia delapan tahun bernama Aira, yang berada dalam pangkuan sang ibu. Aira menderita mikrosefali, kondisi langka yang menyebabkan ukuran kepala lebih kecil dari normal akibat perkembangan otak yang tidak sempurna saat kehamilan atau berhenti berkembang setelah lahir.

Melihat kondisi tersebut, Wali Kota Serang memberikan bantuan biaya untuk membeli kursi roda Cerebral Palsy OneHealth, yang dilengkapi fitur body protect untuk stabilitas tubuh, sandaran yang bisa diatur, serta bantalan busa khusus demi kenyamanan. Selain itu, Budi juga memberikan santunan untuk kebutuhan berobat dan kebutuhan sehari-hari, seperti beras dan biskuit.

“Tadi lihat kan saya memberikan kursi yang ada pengikatnya. Kebetulan pemerintah tidak punya ya, jadi pemerintah pakai uang pribadi saya. Semoga itu bermanfaat untuk saya nanti di akhirat, tentunya bermanfaat juga untuk yang memakai. Gitu ya,” ucap Budi.

Ia berharap budaya gotong royong dan kepedulian sosial di masyarakat terus digalakkan.
“Saya berharap budaya saling bantu ini terus digalakkan, kalau di wilayah Kota Serang ada yang mampu ketika ada tetangganya sedang kesusahan bisa saling membantu. Jadi untuk menyemangati bahwa kita harus sama-sama peduli sama manusia yang punya harta lebih bisa melakukan hal yang sama,” harapnya.

Kondisi Kesehatan Aira

Kepala Puskesmas Banjar Agung, Yuliana, menjelaskan bahwa Aira mengalami kelumpuhan pada keempat anggota gerak atau Quadriplegia (Tetraplegia) sejak usia enam bulan. Kondisi ini pertama kali terdeteksi setelah Aira mengalami kejang dan dibawa ke posyandu terdekat.

“Dari hasil itu pihak posyandu menyarankan untuk meminta rujukan ke puskesmas yang nantinya ditunjukkan ke rumah sakit khusus,” ungkap Yuliana.

Ia juga menambahkan bahwa setelah penelusuran di posyandu tempat sang ibu melakukan kontrol, ditemukan adanya masalah sejak proses kelahiran.
“Memang pada saat melahirkan itu sudah tidak apa untuk tumbuh kembang bayinya,” jelasnya.

dr. Mega Martin dari Puskesmas Banjar Agung turut menjelaskan bahwa saat memeriksakan kandungan ke dokter obgyn, keluarga telah mendapatkan diagnosa mikrosefali. Aira lahir di rumah sakit swasta, namun karena kendala biaya, keluarga meminta pulang atau Atas Permintaan Sendiri (APS).

“Pengobatan itu rutin dilangsungkan, namun kendala biaya terhenti dan akhirnya pada saat usia 6 bulan terjadi kejang. Setelah itu berobat di rumah saja dengan bidan terdekat, karena enggak ada biaya,” ungkap dr. Mega.

Menurutnya, penderita mikrosefali biasanya memiliki ukuran kepala yang lebih kecil, mengalami keterlambatan perkembangan motorik, bicara, kemampuan belajar, serta kesulitan koordinasi dan keseimbangan.

dr. Mega menyarankan agar Aira mendapatkan terapi untuk mendukung produktivitasnya.
“Jadi awalnya memang harusnya dibawa ke dokter poli anak nanti disarankan untuk terapi rehab medik itu. Itu membantu untuk bisa melangsungkan produktivitasnya secara mandiri walaupun enggak total 100% seperti itu,” jelasnya.

Puskesmas Banjar Agung telah menyarankan keluarga Aira untuk membuat surat rujukan agar dapat diteruskan ke rumah sakit poli anak.
“Nanti dari pihak rumah sakit, poli anak akan melaksanakan terapi selama dibutuhkan, dan itu gratis. Karena ditanggung BPJS bisa gratis,” terangnya.

Di akhir keterangannya, dr. Mega berharap keluarga Aira dapat rutin melakukan pemeriksaan.
“Hasil memang tidak bisa langsung instan, akan tetapi kalau kita sudah berusaha, semoga aja ya, kita namanya berusaha ikhtiar semoga aja ada hasilnya seperti itu,” pungkasnya. ***

Related Posts

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *