Tangerang — Gurihnya makanan memang menggoda, tapi siapa sangka, di balik rasa nikmat itu tersembunyi ancaman yang bisa membahayakan tubuh. Ya, konsumsi garam berlebihan ternyata menjadi salah satu penyebab utama berbagai penyakit serius yang sering dianggap sepele.
Menurut data Kementerian Kesehatan, rata-rata masyarakat Indonesia mengonsumsi garam 9–12 gram per hari, padahal batas ideal yang direkomendasikan WHO hanyalah 5 gram — atau setara dengan satu sendok teh.
“Garam memang dibutuhkan tubuh, tapi dalam jumlah kecil. Jika berlebihan, bisa memicu tekanan darah tinggi, gangguan ginjal, dan risiko penyakit jantung,” ujar dr. Fitri Anindya, dokter spesialis gizi klinik di Tangerang, Minggu (9/11/2025).
Lebih lanjut, dr. Fitri menjelaskan bahwa natrium dalam garam dapat menahan cairan di dalam tubuh, sehingga volume darah meningkat dan tekanan pada pembuluh darah pun naik. Akibatnya, jantung harus bekerja lebih keras.
Tak hanya itu, kelebihan garam juga bisa menyebabkan pembengkakan pada tubuh, dehidrasi, bahkan gangguan fungsi otak. Dalam jangka panjang, konsumsi garam tinggi dapat mempercepat proses penuaan dini karena menurunkan elastisitas pembuluh darah.
“Yang sering tidak disadari, bukan cuma garam dapur yang berbahaya. Makanan olahan seperti keripik, mie instan, sosis, atau makanan cepat saji mengandung natrium sangat tinggi,” tambahnya.
Meski begitu, bukan berarti garam harus dihindari sepenuhnya. Tubuh tetap membutuhkan natrium untuk menjaga keseimbangan cairan dan fungsi otot. Kuncinya adalah mengatur asupan harian dan memilih makanan segar dibandingkan makanan kemasan.
Sebagai langkah sederhana, masyarakat diimbau membatasi penggunaan garam saat memasak, membaca label kandungan natrium pada produk kemasan, serta memperbanyak konsumsi buah dan sayur yang kaya kalium untuk menyeimbangkan kadar garam dalam tubuh.
“Jika mulai sering merasa haus, pusing, atau bengkak di kaki tanpa sebab jelas, bisa jadi itu tanda tubuh kelebihan garam,” pungkas dr. Fitri.***










