Menggali Potensi Talas Beneng sebagai Inovasi Unggulan Pertanian Banten
Namun, kadar lemak yang cukup tinggi perlu diperhatikan, karena dapat menyebabkan ketengikan bila tidak ditiriskan atau dikemas dengan baik.
Pengembangan talas beneng memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat lokal, terutama di Kabupaten Pandeglang. Pengolahan talas beneng menjadi tepung, keripik, dan produk olahan lainnya membuka peluang bagi usaha kecil menengah (UKM), serta meningkatkan pendapatan petani dan pelaku usaha desa.
Contohnya, beberapa pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) seperti Ibu Mariam, Ibu Jumsiati, dan Ibu Ecih dari Kampung Cinyurup, Desa Juhut, Kecamatan Karang Tanjung telah berhasil mengembangkan berbagai produk olahan talas beneng.
Aktivitas ini menciptakan rantai ekonomi lokal yang berkelanjutan, mulai dari petani sebagai penyedia bahan baku, pengrajin tepung sebagai pengolah, hingga pedagang yang memasarkan produk olahan. Tetapi pengolahan talas beneng perlu memperhatikan tingginya asam oksalat yang dapat menyebabkan rasa gatal jika tidak diolah dengan benar.
Diperlukan proses perendaman, pemanasan, atau fermentasi untuk menguranginya, serta peningkatan kebersihan produksi agar bebas dari E. coli dan kapang.
Dengan pengolahan yang higienis dan tepat, talas beneng dapat menjadi produk unggulan Banten yang berkualitas, aman dikonsumsi, dan berpotensi memperkuat ekonomi lokal.
pengembangan talas beneng merupakan langkah strategis dalam memperkuat sektor pertanian berkelanjutan di Banten. Melalui peningkatan budidaya, penerapan teknologi pertanian modern, serta pengolahan pascapanen yang higienis dan efisien, talas beneng dapat memberikan nilai tambah bagi petani sekaligus memperkuat kemandirian pangan lokal.
SUMBER:
Budiarto, M. S., & Rahayuningsih, Y. (2017). Potensi nilai ekonomi Talas Beneng (Xanthosoma undipes K.