Kopi, Nadi Kehidupan Petani di Kaki Gunung Karang
Apan mengaku sebelum adanya program ini, dirinya mengelola 6 tempat total lahan yang digarapnya kurang lebih 5 hektar yang menghasilkan 5 ton biji kopi per tahun. Dengan kisaran harga jual 18.000 sampai 20.000 rupiah per kilogram, bisa dibayangkan betapa kopi sangat menjanjikan pundi-pundi rupiah apalagi dengan sistem saat ini.
"Kalau dulu kan asal tanam, asal panen, asal olah. Kalau sekarang semuanya tertata. Jarak tanam diperhatikan, setiap hari kita fokus ngurus kopi gak kenal lelah," begitulah kata Apan.
LEM Tri Sanghyang bukan hanya menata petani dan kebun kopi, namun juga mengembalikan harga kopi sebagaimana mestinya. Melalui sistem LEM, petani kopi bisa menjual di kisaran harga 25.000 hingga 40.000 rupiah per kilogram sesuai rade (kualitas) pasaran.
Adanya pembinaan yang intensif, masyarakat kini mulai kembali membicarakan dan melirik kopi sebagai tanaman ekonomis. Menjadi investasi tahunan bagi para petani, sedangkan kebutuhan sehari-hari sudah bisa terpenuhi dengan hasil sayuran yang ditaman di antara pohon kopi.
"Kita juga menggunakan sistem campur sari, kita bisa merawat kebun kopi sambil menanam wortel, menanam kentang, sawi, dan sebagainya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari," pungkasnya.
Lahan semakin meluas, gunung semakin menghijau, petani semakin makmur. Itulah kondisi kaki Gunung Karang saat ini.
Karena ngopi tidak selalu tentang kopi, secangkir kopi yang setia menemani pagi adalah harapan para petani, berbicara tentang kopi adalah sinergi membangun negeri, berbicara tentang kopi, berbicara tentang bumi yang lestari.
(Mardiana/Herfa)