Peresmian Jembatan Baru dan Peningkatan Infrastruktur oleh Gubernur Banten untuk Mendorong Konektivitas dan Ekonomi
"Karena hambatan utama di antaranya adalah sempitnya transportasi. Kita belum berani mengoperasionalkan karena dari Palima sampai ke Baros kalau masih dua arah bisa bahaya. Aspek keamanan ketika terjadi pertandingan besar saya konsultasikan harus membuat prosedur one way-nya," jelas Al Muktabar.
"Maka nanti dari arah Pandeglang nantinya masuk dari depan Pasar Baros terus keluar perempatan Boru, Cipocok Jaya sehingga tidak akan terjadi kemacetan," tambah Al Muktabar.
Al Muktabar menegaskan, Pemprov Banten mempersiapkan secara menyeluruh untuk mengoperasionalkan Stadion Internasional Banten. Penyiapan juga didukung oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia.
"Itu juga bagian dari mendorong transportasi massal di Kota Serang," pungkasnya.
Di tempat yang sama, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Provinsi Banten Arlan Marzan mengungkapkan nilai kontrak pembangunan Jembatan Tanara dan Jembatan Kemayungan mencapai Rp16,2 miliar. Lebar jembatan menjadi 7 meter.
"Jembatan Tanara yang dibangun pada 2004 yang lebarnya 4,5 meter cukup mengganggu mobilitas. Tidak bisa dua jalur. Hal sama juga di Jembatan Kemayungan yang dibangun pada 1979," jelasnya.
"Jembatan Tanara dan Jembatan Kemayungan menopang mobilitas masyarakat pantai utara (Pantura). Untuk akses wisata ke Banten Lama dari Tangerang, jalur distribusi hasil pertanian dan perikanan, hingga menopang mobilitas para pekerja pada kawasan industri di wilayah Tangerang dan Serang," pungkas Arlan.
her/red