KKN Tematik Universitas Garut Kelompok 16 Hadir di MIS Ar-Raudhotun Nur, Kampanyekan Anti-Bullying dan Bangun Cinta kepada Orang Tua
Nisya menambahkan bahwa kampanye Anti-Bullying tidak seharusnya hanya dipahami sebagai larangan untuk tidak melakukan perundungan. Lebih jauh, gerakan tersebut harus menjadi ajakan untuk membangun budaya saling menghargai. Menurutnya, seorang anak yang terbiasa memahami perasaan orang lain akan lebih mampu mengendalikan ucapan dan perilakunya ketika berhadapan dengan teman. “ Anti-Bullying bukan hanya tentang mengatakan ‘jangan membully’, tetapi bagaimana kita membangun kebiasaan untuk saling menghargai. Kita ingin anak-anak memahami bahwa setiap orang memiliki perasaan yang harus dijaga, ” ungkap Nisya.
Bagi MIS Ar-Raudhotun Nur, kehadiran mahasiswa KKN Tematik Universitas Garut menjadi kesempatan untuk memperkaya pengalaman belajar siswa. Pembelajaran karakter tidak selalu harus berlangsung melalui buku pelajaran atau penyampaian materi di ruang kelas. Edukasi dapat hadir melalui diskusi, kampanye, permainan, pengalaman bersama, hingga tontonan yang mampu menyentuh sisi emosional peserta didik. Kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan lembaga pendidikan dapat menghadirkan program yang relevan dengan kebutuhan generasi muda. Mahasiswa KKN tidak hanya datang membawa program, tetapi juga berusaha memahami dunia anak dan menyampaikan pesan pendidikan melalui pendekatan yang komunikatif dan menyenangkan. Hal ini sejalan dengan semangat KKN sebagai bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat melalui penerapan pengetahuan dan kepedulian sosial. Universitas Garut sendiri secara konsisten menempatkan KKN sebagai ruang bagi mahasiswa untuk hadir dan memberikan kontribusi nyata di tengah masyarakat.
Lebih dari sekadar kegiatan satu hari, kampanye Anti-Bullying dan nonton bersama Es Krim Terakhir dari Ayah meninggalkan pesan penting bagi siswa MIS Ar-Raudhotun Nur. Ada dua lingkungan yang perlu dijaga oleh seorang anak: lingkungan sosial di sekolah dan lingkungan keluarga di rumah. Di sekolah, setiap siswa memiliki tanggung jawab untuk menghormati teman. Sementara di rumah, setiap anak memiliki kesempatan untuk membalas kasih sayang orang tua dengan sikap hormat, perhatian, dan cinta.
Pada akhirnya, kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan karakter bukan hanya tentang membentuk anak agar menjadi pintar, tetapi juga membantu mereka tumbuh menjadi manusia yang memiliki empati. Anak yang mampu memahami perasaan temannya akan belajar untuk tidak menyakiti. Anak yang mampu menghargai orang tuanya akan memiliki fondasi moral untuk menghargai orang lain.