Dimyati berharap pengembangan olahraga catur di Banten mendapat dukungan dari berbagai pihak. Pemerintah daerah, organisasi olahraga, sekolah, komunitas, orang tua, hingga masyarakat diharapkan dapat mengambil bagian dalam menciptakan ruang pembinaan bagi atlet-atlet muda.
Ia mendorong agar kejuaraan, festival, dan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan catur terus diperbanyak. Semakin banyak ruang kompetisi, semakin besar pula kesempatan anak-anak untuk mengasah kemampuan dan memperoleh pengalaman bertanding.
“Di dalam catur juga kita diajarkan bagaimana pion-pion itu di tengah keterbatasan bidak yang ia lalui, namun dengan konsistensi ia bisa sukses menjadi apa pun yang diinginkan,” jelasnya.
Filosofi tersebut, menurut Dimyati, menggambarkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berusaha. Dengan ketekunan, konsistensi, dan strategi yang tepat, seseorang tetap memiliki peluang untuk mencapai tujuan.
Ia berharap nilai-nilai tersebut dapat menjadi motivasi bagi para atlet muda Banten. Para pecatur tidak hanya dituntut untuk memiliki kemampuan teknis, tetapi juga harus mempunyai mental bertanding yang kuat.
Dimyati juga menilai kejuaraan tingkat provinsi menjadi salah satu sarana penting untuk melakukan pemetaan sekaligus pembinaan atlet. Dari kompetisi seperti ini, bibit-bibit potensial dapat ditemukan dan selanjutnya dibina secara berkelanjutan.
Pembinaan sejak usia dini dinilai penting karena perjalanan seorang atlet menuju prestasi tidak dapat dilakukan secara instan. Dibutuhkan proses panjang, latihan rutin, pengalaman bertanding, serta dukungan lingkungan yang memadai.
Karena itu, Dimyati mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk tidak melihat olahraga catur hanya sebagai kegiatan rekreatif. Catur juga memiliki potensi menjadi salah satu cabang olahraga yang mampu mengharumkan nama Banten di tingkat nasional maupun internasional.