Jumat, 3 Juli 2026
Login Kirim Tulisan

Kemiskinan Jerat Ratusan Ribu Warga Brebes Meski Jadi Lumbung Padi Nasional

BAGIKAN:
Kemiskinan Jerat Ratusan Ribu Warga Brebes Meski Jadi Lumbun...
0
Kemiskinan Jerat Ratusan Ribu Warga Brebes Meski Jadi Lumbung Padi Nasional
Ratusan ribu warga Brebes, Jawa Tengah, masih hidup dalam kemiskinan ekstrem meskipun daerah tersebut merupakan lumbung padi nasional. (Dok. Ist)
Iklan

DISTRIKBANTENNEWS.COM, Bandung - Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, masih menghadapi masalah kemiskinan yang serius. Data Badan Pusat Statistik tahun 2025 mencatat ada sekitar 257 ribu jiwa penduduk miskin di wilayah tersebut.

Angka ini menjadikan Brebes sebagai daerah dengan jumlah penduduk miskin tertinggi di Jawa Tengah. Dari total 2,09 juta jiwa warga Brebes, sebanyak 12,3 persen di antaranya masuk kategori miskin.

Padahal, Brebes dikenal sebagai lumbung padi dan bawang merah nasional. Kondisi ini menunjukkan paradoks kemiskinan di tengah kelimpahan sumber daya agraris.

Salah satu wilayah yang merasakan realitas ini adalah Desa Karangjunti, Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes. Desa ini berdekatan dengan wilayah Jawa Barat dan mayoritas masyarakatnya berprofesi sebagai petani padi.

Meskipun memiliki kondisi geografis strategis dan tanah subur, para petani di sana menghadapi berbagai keterbatasan. Keterbatasan tersebut meliputi sulitnya akses terhadap modal dan penggunaan teknologi pertanian yang masih sederhana.

Selain itu, petani juga sangat bergantung pada tengkulak dalam distribusi hasil panen mereka. Situasi ini mengakibatkan nilai ekonomi yang diterima petani tidak sebanding dengan kerja keras yang telah mereka lakukan.

Paradoks kemiskinan di Brebes merupakan akumulasi dari berbagai faktor. Faktor-faktor tersebut mencakup aspek struktural dan kultural yang saling berkaitan.

Dari sisi struktural, kebijakan pembangunan dinilai belum sepenuhnya berpihak pada petani kecil. Program bantuan yang ada seringkali tidak tepat sasaran atau hanya bersifat jangka pendek.

Akibatnya, program tersebut tidak mampu memberikan dampak berkelanjutan bagi kesejahteraan petani. Infrastruktur pendukung seperti irigasi, jalan distribusi, dan akses pasar juga masih belum optimal.

***

Iklan
Rektor UWM Prof Edy Suandi Hamid Sebut Ekonomi Indonesia Rapuh, Butuh Perubahan Mendasar
Artikel Selanjutnya

Rektor UWM Prof Edy Suandi Hamid Sebut Ekonomi Indonesia Rapuh, Butuh Perubahan Mendasar

Iklan
Iklan
Penulis: Redaksi
Diterbitkan: 18 Maret 2026, 11:00 WIB · Diperbarui: 25 Maret 2026, 01:46 WIB
Sumber: Rilis

Berikan Opinimu

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE

Terkini