Seorang guru Madrasah Tsanawiyah membagikan refleksinya mengenai kondisi pendidikan di Indonesia. Ia menilai sistem yang ada belum optimal mendukung potensi siswa, meskipun mereka cerdas dan kritis.
Pandangan tersebut muncul dari pengalaman mengajar di ruang kelas sederhana. Guru ini melihat langsung wajah masa depan bangsa dan menyoroti beberapa tantangan utama.
Salah satu tantangan adalah adaptasi terhadap Kurikulum Merdeka. Guru MTs tersebut mengakui adanya harapan besar terhadap kurikulum ini untuk pembelajaran yang lebih fleksibel dan bermakna.
Namun, implementasinya di lapangan tidak semudah yang dibayangkan. Guru harus menyusun ulang modul ajar dan menghadapi tumpukan administrasi.
Pelatihan Kurikulum Merdeka juga belum semua didapatkan guru secara merata. Di sekolah berbasis madrasah seperti MTs, penyesuaian harus dilakukan dengan karakteristik keagamaan lembaga.
Perubahan ini membutuhkan waktu, pendampingan, serta kejelasan arah. Kesenjangan digital juga menjadi isu nyata di ruang kelas.
Ada siswa yang sudah terbiasa membuat presentasi dengan laptop dan internet stabil di rumah. Di sisi lain, banyak siswa masih harus meminjam gawai orang tua atau menunggu ayahnya pulang kerja untuk mengerjakan tugas.
Kondisi ini menunjukkan bahwa transformasi digital pendidikan dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi masih berjalan lambat. Dampak kelambatan ini terlihat di kelas-kelas kecil.
Selain itu, literasi siswa dinilai masih rapuh. Guru MTs itu pernah mendapati banyak siswa kesulitan menangkap inti bacaan setelah diminta membaca satu halaman teks.
***