Dosen dan peneliti Mohammad Nur Rianto mengulas tantangan stabilitas harga pangan selama bulan Ramadhan. Ia menyoroti dinamika sosial dan ekonomi yang khas, di mana konsumsi masyarakat justru meningkat signifikan.
Peningkatan konsumsi ini berimplikasi pada kenaikan harga pangan di pasar. Fenomena kenaikan harga menjelang dan selama Ramadhan hampir selalu menjadi isu tahunan yang mendapat perhatian luas.
Menurut Mohammad Nur Rianto, kenaikan harga tidak hanya berdampak pada daya beli masyarakat. Kondisi ini juga berpotensi memicu inflasi dan ketidakstabilan ekonomi.
Oleh karena itu, menjaga stabilitas harga pangan selama Ramadhan bukan sekadar persoalan teknis ekonomi. Lebih dari itu, hal ini menyangkut aspek keadilan sosial dan kesejahteraan masyarakat.
Mohammad Nur Rianto menjelaskan setiap memasuki Ramadhan, pola konsumsi masyarakat mengalami perubahan signifikan. Jika pada bulan biasa masyarakat makan tiga kali sehari, selama Ramadhan pola makan berubah menjadi dua waktu utama, yaitu sahur dan berbuka puasa.
Meskipun secara logika jumlah waktu makan berkurang, kenyataannya konsumsi makanan justru meningkat. Ia memaparkan beberapa faktor yang menyebabkan fenomena ini.
Faktor pertama adalah munculnya tradisi berbuka puasa dengan berbagai jenis makanan dan minuman. Beragam menu takjil seperti kolak, gorengan, minuman manis, hingga makanan berat menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya berbuka puasa di Indonesia.
Faktor kedua adalah meningkatnya aktivitas sosial seperti buka puasa bersama. Ini terjadi baik di lingkungan keluarga, komunitas, maupun tempat kerja.
***