Ia mengungkapkan bahwa produsen produk halal terbesar di dunia saat ini justru didominasi oleh negara-negara non-muslim. Negara-negara tersebut antara lain Tiongkok dan Brasil.
Indonesia, menurutnya, harus mampu bersaing dan mengambil peran sebagai produsen, bukan hanya menjadi konsumen.
"Nah, jadi memang ironis, kita menjadi market yang diserbu oleh negara-negara yang bukan mayoritas muslim, tapi mereka memproduksi [produk halal]," jelasnya.
"Kenapa enggak kita sendiri menguasai? Kira-kira seperti itu," tutup Mendagri Muhammad Tito Karnavian.
Lebih lanjut, Mendagri mengapresiasi pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepri. Daerah ini berhasil memanfaatkan kedekatan geografis dengan Singapura sebagai tujuan ekspor produk daerah.
Berdasarkan data, Kepri mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 7,89 persen secara year-on-year (y-o-y) pada Triwulan IV Tahun 2025. Angka ini berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,39 persen.
Meski demikian, Mendagri mengingatkan pentingnya pemerataan ekonomi. Pemerataan ini diperlukan antara kawasan maju dengan wilayah kepulauan terluar.
Dalam konteks tersebut, ia mengapresiasi terobosan Bank Indonesia melalui sistem pembayaran QRIS.
***