Produk Kearifan Lokal Baduy Jadi Primadona di HPN 2026 Banten
Ia juga memuji keramahan warga Banten dan cita rasa kulinernya yang unik. Antusiasme ini juga dirasakan oleh Juharsah dari PWI Lampung, ia merasa nyaman mengenakan lomar sebagai bentuk apresiasi budaya.
"Rasanya enak, nyaman. Kami sangat menghargai kebudayaan ini," ungkapnya.
Senada dengan Juharsah, Iyan Aswuka dari PWI Sumatera Utara mengaku akan tetap memakai ikat kepala Baduy di dalam pesawat dan di kampung halamannya di Sumatra Utara.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Banten, Eli Susiyanti memang sengaja membawa miniatur kehidupan Baduy ke tengah keriuhan HPN. Eli menyebut kehadiran bangunan leuit (lumbung padi) dan pengrajin tenun asli Baduy sebagai upaya untuk menunjukkan bahwa Banten memiliki kekayaan adat yang tetap relevan di era modern.
Perhelatan nasional yang digelar di Banten ini, menjadi ajang silaturahmi bagi insan pers nasional, kegiatan ini diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi nyata bagi pelaku UMKM di Banten.
Dijelaskan Eli, panitia penyelenggara turut menyampaikan terima kasih kepada seluruh peserta HPN 2026 yang telah berkunjung dan memberikan dukungan bagi pertumbuhan ekonomi kreatif di Banten.
Harapannya satu, saat para wartawan ini kembali ke daerah masing-masing, mereka tidak hanya membawa berita, tetapi juga membawa cerita hangat tentang keramahtamahan Banten, budaya, dan kulinernya sebagai kenangan. ***