Tak Sekadar Lubang Tanah, Biopori Kantor DCKTR Tangsel Jadi Senjata Baru Tekan Sampah dari Hulu
Untuk mendukung perubahan perilaku pegawai, DCKTR juga menyiapkan sistem pemilahan sejak dari hulu. Di setiap ruangan disediakan ember tertutup khusus sampah organik.
Sisa makanan dipilah secara mandiri oleh pegawai, lalu setiap sore diangkut petugas kebersihan untuk dimasukkan ke lubang biopori.
Program Biopori Kantor ini dijalankan secara kolaboratif bersama sejumlah dinas di kawasan Perkantoran Lengkong Wetan, di antaranya Dinas Perhubungan, Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga dan Bina Konstruksi (DSDABMBK), Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Perkimta), serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud).
“Perubahan kebiasaan memang tidak mudah. Tapi ini harus dimulai dari hulu. Biopori tidak akan berjalan tanpa pemilahan sampah yang benar,” tambahnya.
Ke depan, DCKTR Tangsel menargetkan program ini dapat direplikasi di kawasan perkantoran lain, fasilitas umum, hingga gedung pendidikan dan kesehatan di wilayah Tangerang Selatan.
“Kalau pilot project ini berhasil, akan kita kembangkan ke kawasan lain seperti Puspemkot, kawasan Setu, Celenggang, hingga gedung-gedung layanan publik. Target akhirnya tentu menuju zero waste di lingkungan perkantoran,” tegasnya.
Ia juga menekankan bahwa biopori memerlukan perawatan rutin, minimal satu kali dalam sepekan, agar proses penguraian berjalan optimal.
“Kalau sampahnya terurai dan volumenya turun, artinya biopori bekerja dengan baik. Jadi ini bukan sekadar buang, tapi ada proses dan perawatannya,” tuturnya.