Acara ini juga dihadiri Sultan Lampung, serta sejumlah aktivis, akademisi, dan pemerhati budaya dari berbagai wilayah. Seminar yang merupakan puncak dari rangkaian kegiatan selama 15 hari ini menghadirkan sejumlah pembicara utama.
Sejarawan dari Kesultanan Cirebon, Mustaqim Asteja, menyampaikan materi bertajuk "Pararaton Kesultanan Banten: Refleksi Sejarah 5 Abad". Ia menyatakan bahwa sejarah Banten adalah sejarah internasional, mengingat perannya sebagai pusat perdagangan global sejak abad ke-16.
"Banten pernah menjadi kerajaan Islam paling penting di Indonesia. Pedagang Tionghoa, Arab, dan bangsa-bangsa lain pernah menjadikannya pusat aktivitas ekonomi di Hindia Belanda," kata Mustaqim.
Sementara itu, Prof. Dr. HMA.
Tihami, MA, menyoroti ketimpangan antara masa kejayaan Banten dengan kondisi sosial saat ini. Ia menilai bahwa ketidakhadiran pemangku budaya menyebabkan masyarakat kehilangan arah.
"Banten perlu mengembalikan kedaulatan budaya kepada Kesultanan. Itu adalah identitas aslinya," tegasnya.
Prof. Mufti Ali, MA, Ph.D, turut membahas rekonstruksi sejarah Maulana Hasanuddin berdasarkan empat sumber lokal, dengan penekanan pada pentingnya pelurusan sejarah berbasis dokumen otentik.
Dipandu oleh moderator Ahmad Yani, S.Sos., M.Si, diskusi berlangsung aktif. Forum ini merekomendasikan dua hal penting yang akan diajukan kepada Presiden Prabowo Subianto: pembentukan tim kecil untuk membahas tindak lanjut rekonstruksi Kesultanan Banten, dan pelaksanaan lokakarya untuk menggodok hasilnya.