Resital Gitar Klasik di Perpustakaan Untirta Seperti Ensiklopedi yang Terbuka
Serang, (29/6) Ada yang berbeda pada siang yang gerimis di Perpustakaan Untirta, yaitu resital gitar klasik. Tidak semua memahami bahkan mungkin menikmati gitar klasik dengan pelbagai karyanya.
Selama ini telinga kita sudah terbiasa menikmati karya-karya populer. Bahkan nyaris agak aneh ketika menonton sebuah pementasan tanpa diiringi vokalis.
Gaya instrumental memang masih asing di telinga apresiator di Banten.
Kendati demikian, dengan konsep yang lebih literat, Komunitas Isola Guitar berusaha untuk mengenalkan karya-karya adiluhung eropa yang kadang dipadankan juga dengan karya-karya Indonesia.
Karya-Karya Adiluhung di Resital Gitar Klasik
Mereka menyelenggarakan hal yang serupa di tahun sebelumnya, juga di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, dan ini adalah kegiatan kedua. Resital ini seperti membaca ensiklopedia permusikan di dunia, membuka kembali lembaran-lembaran karya klasik hingga modern mulai dari J.S Bach (1685), F.
Schubert (1825), F. Tarrega (1852), Zequinha de Abreu (1880), dan A.
Barrios Mangore (1885). Banyak pula di antara para gitaris yang memainkan karya Indonesia seperti Ismail Marzuki, Jubing Kristianto, Dewa Bujana dan Tohpati.
Bahkan ada juga yang memainkan lagu sunda seperti Peuyeum Bandung karya Nining Meida, Bubuy Bulan karya Benny Corda atau Panon Hideung karya Florian Hermann.