Reformasi Birokrasi dan Penyaluran Bantuan Sosial: Upaya Pemerintah Provinsi Banten Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Al Muktabar, Penjabat Gubernur Banten, menekankan pentingnya kebersamaan dalam masyarakat, bukan hanya besarnya bantuan yang diberikan. Ekspedisi Reformasi Birokrasi Tematik Berdampak juga dilakukan untuk meninjau pembangunan di Provinsi Banten, khususnya dalam urusan pelayanan dasar kepada masyarakat Banten pada pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur.
Baru-baru ini, 18 sekolah telah diresmikan, baik unit sekolah baru, kelas baru, maupun fasilitas sekolah baru. Al Muktabar menekankan pentingnya peningkatan pelayanan dasar untuk anak-anak sekolah dan penanganan stunting dan gizi buruk melalui pendidikan.
Dalam interaksi dengan masyarakat bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Al Muktabar menunjukkan kekompakan dalam menjaga stabilitas Provinsi Banten. Dia memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada TNI/Polri dan segenap jajaran yang telah menjaga stabilitas.
Al Muktabar merasa bahagia dapat berinteraksi dengan masyarakat, yang merupakan bagian dari Ekspedisi Reformasi Birokrasi Tematik Berdampak.
Dalam laporannya, Ketua Panitia yang juga Penjabat Sekretaris Daerah Provinsi Banten, Virgojanti, memaparkan penyaluran bantuan sosial dalam rangka penanganan kemiskinan. Bantuan yang disalurkan meliputi berbagai jenis, mulai dari kursi roda bagi disabilitas, bantuan Jaminan Sosial Keluarga, bantuan Usaha Ekonomi Produktif (UEP), bantuan Alat Bantu Dengar, bantuan Beras, bantuan makanan bernutrisi untuk anak Stunting, bantuan pemberdayaan ekonomi perempuan, bantuan natura untuk perempuan dan anak penyintas kekerasan, bantuan Benih Padi dan Bawang Merah, bantuan Ikan Konsumsi, bantuan Listrik Desa, bantuan BPJS Peserta Bukan Penerima upah, dan bantuan Keuangan kepada Pemerintah Desa.
Semua bantuan ini disalurkan dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Banten.
Nurhalifa, seorang anak berusia 11 tahun asal Jayanti, merasa sangat terbantu dengan adanya bantuan kursi roda. Sebelumnya, dia mengalami kesulitan untuk berjalan.
Hendri, 38 tahun, juga asal Jayanti, merasa bantuan tersebut sangat membantu mobilitasnya. Dia berharap pemerintah daerah dan pusat lebih memperhatikan kalangan disabilitas.