Di Tepi Barat, Pemukiman Israel Mengambil Alih Rumah Impian Warga Palestina
3 Juli. Warga Palestina, Mohammad Salameh, sedang membangun sebuah rumah untuk keluarganya di Tepi Barat yang diduduki Israel. Rumah tersebut direncanakan akan menjadi tempat tinggal putranya yang baru saja bertunangan setelah menikah. Namun, sebelum pembangunan selesai, sekelompok penduduk Israel mengambil alih rumah tersebut.
Video yang direkam pada awal pekan ini dan telah diverifikasi oleh beberapa media Internasional menunjukkan sedikitnya enam penduduk berada di atap rumah dua lantai yang terletak di bawah sebuah bukit di dekatnya.
Salameh mengatakan bahwa permohonannya kepada militer dan kepolisian Israel tidak membuahkan hasil. Kini ia khawatir rumahnya yang seperti banyak rumah lainnya di wilayah Palestina dikelilingi oleh permukiman dan pos-pos pemukim Israel akan hilang selamanya. Ia juga khawatir rumah-rumah lain di daerah itu akan mengalami nasib yang sama.
"Hanya Tuhan yang tahu. Jika benar ada hukum dan ketertiban, mereka akan pergi" kata Salameh. "Jika mereka berhasil mengambil satu rumah, maka yang lainnya akan menyusul."
Beberapa media Internasional tidak berhasil menghubungi para pemukim tersebut untuk dimintai komentar. Pada Kamis, salah satu dari mereka masih terlihat berjalan di atas atap rumah tersebut.
Militer Israel menyatakan telah menerima laporan mengenai rumah itu pada awal pekan ini dan mengatakan bahwa "para tentara tiba di lokasi dan segera bertindak untuk membubarkan kerumunan." Namun, mereka tidak memberikan komentar mengenai keberadaan para pemukim yang masih berada di rumah tersebut.
Militer juga menyatakan bahwa penegakan hukum terhadap tindakan pemukim Israel di Tepi Barat merupakan tanggung jawab kepolisian Israel. Hingga berita ini ditulis, kepolisian belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.
Permukiman dan Serangan Pemukim Meluas di Bawah Pemerintahan Netanyahu
Pengambilalihan tanah milik warga Palestina oleh pemukim Israel telah lama menjadi bagian dari kehidupan di Tepi Barat, di mana sekitar 500.000 warga Israel tinggal berdampingan dengan sekitar 3 juta warga Palestina.
Selama bertahun-tahun, warga Palestina melaporkan berbagai kerusakan terhadap lahan pertanian, aksi vandalisme, dan serangan yang dikaitkan dengan perluasan permukiman. Sebuah penyelidikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang diterbitkan bulan lalu melaporkan bahwa serangan pemukim Israel terhadap desa-desa dan lahan pertanian Palestina meningkat tajam sejak 2023, dengan kenaikan sekitar 130%.
Warga Jalud, desa tempat tinggal Salameh, mengatakan bahwa insiden pekan ini merupakan eskalasi yang mengkhawatirkan karena para pemukim kali ini mengambil alih sebuah rumah yang masih dalam tahap pembangunan.